Arya Ulilalbab

Makanan, Gizi dan Kesehatan

Twitter

Pangan Transgenik

diposting oleh aryaulilalbab-fkm12 pada 17 October 2012
di Ilmu Pangan - 0 komentar

Sejak dahulu dengan adanya teori bahwa pertumbuhan makanan berkembang menurut deret hitung sedangkan pertumbuhan jumlah penduduk menurut deret ukur, riset-riset terhadap peningkatan produksi pertanian semakin gencar. Dimulai dengan adanya revolusi hijau yang ternyata menyebabkan pencemaran dan ketidakseimbangan zat hara tanah. Pencarian bibit unggul yang merupakan salah satu upaya meningkatkan produksi pertanian, berkembang dari memadukan keunggulan pada antar varietas dengan mengadakan perkawinan silang hingga mengutak-atik genetik tanaman. Perkembangan ini dimungkinkan karena telah dikuasainya teknologi DNA. Munculnya istilah transgenik lebih disebabkan oleh keberhasilan para ilmuwan negara maju untuk memindahkan DNA penyandi sifat tertentu dari suatu spesies makhluk hidup ke spesies lainnya yang secara taksonomi sangat berbeda. Sebenarnya teknologi perkawinan silang, juga dapat dimasukkan dalam kategori teknologi transgenik namun bersifat konvensional. Pemindahan genetik ini bertujuan untuk menghasilkan tanaman yang “sempurna” yaitu tanaman yang mampu ditanam dalam kondisi ekstrim, tahan penyakit dan gangguan hama, memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan lengkap, hingga memiliki umur simpan yang jauh lebih panjang pada teknik penyimpanan minimal.     

Di kawasan regional Asia Tenggara, hampir setiap negara berbasiskan pertanian, sehingga teknologi transgenik lebih dimaksudkan untuk digunakan pada tanaman dibandingkan untuk hewan. Malaysia sebagai salah satu negara diantaranya, mulai melakukan riset atas tumbuhan transgenik dengan membagi dalam empat bagian, yaitu tanaman pangan, tanaman hias (ornamen), tanaman industri, dan tanaman kehutanan. Hasil implementasi teknologi transgenik oleh Malaysia diantaranya adalah beras, pepaya, nanas, cabai, anggrek dan kelapa sawit. Begitu pula halnya dengan negara produsen beras terbesar di dunia, Thailand, implementasi tanaman transgenik telah diterapkan pada beras, singkong, nanas kaleng, baby corn, tomat, dan tanaman-tanaman ornamen. Bahkan di negara tesebut, telah terbentuk sebuah Pusat Rekayasa Genetik dan Bioteknologi (BIOTEC) yang didukung oleh dana APBN hingga mencapai 0,75 % dari total belanja dalam APBN (Sriwitanapongse, 2000; Low, 2000). Di satu sisi, pangan transgenik memang membawa keuntungan tetapi juga memiliki kerugian. Namun dengan kecanggihan teknik analisis dan kehati-hatian dalam melakukan eksploitasi terhadap pangan transgenik, kerugian-kerugian tersebut dapat diminimalisasi.

Kerangka kerja (framework), merupakan integrasi antara aspek konsumen, kepercayaan terhadap regulasi keamanan, perhatian terhadap lingkungan, komersialisasi, perkembangan industri, dan penggunaan label secara umum (Huppartz, 2000). Secara garis besar, penerapan pangan transgenik yang berasal dari Australia dan New Zeland harus menaati peraturan yang diterapkan oleh ANZFA (Australia and New Zeland Food Authorities) yang meliputi tiga ketentuan. Ketentuan pertama adalah setiap pangan harus melalui tahap demi tahap analisa resiko, berdasarkan pengujian keamanan. Ketentuan kedua adalah pangan transgenik yang merubah sifat asli dengan penambahan DNA dari spesies lain wajib untuk diberi label. Sedangkan menurut ketentuan ketiga, pangan transgenik yang tidak melibatkan teknologi pemindahan gen atau hanya menggunakan teknologi konvensional seperti kawin silang, tidak memerlukan label khusus dalam pemasarannya. Peraturan ini kemudian diadopsi menjadi peraturan bersama dalam rapat FAO pada tanggal 5 – 10 November 1990 (Van den Eede et al., 2000).

Ada dua macam modifikasi genetika yang berkaitan dengan pangan, diantaranya yaitu dalam  produksi makanan dan  untuk meningkatkan nutrisi.

1. Contoh-contoh modifikasi genetika dalam produksi makanan

  • keju buatan - karbohidrat komplek untuk pencernaan
  • memperlambat pengempukan tomat pada tanaman, memperkuat flavor
  • kedelai - meningkatkan toleransi herbisida
  • beras- menurunkan tingkat alergi
  • susu - sapi dengan karakteristik susu manusia
  • maize - resisten terhadap pes

2. Contoh-contoh modifikasi genetika untuk meningkatkan nutrisi

Bioteknologi memiliki potensi yang patut dipertimbangkan untuk meningkatkan status gizi pada diet manusia, baik dalam hal kuantitas, dan juga keamanan dari makanan yang tersedia, dan juga karekteristik gizi yang spesifik. Sebagai contoh, adalah memungkinkan untuk meningkatkan kualitas protein tanaman dengan modifikasi genetika untuk meningkatkan kadar asam amino sulfur, dan juga untuk menekan faktor anti nutrisi seperti tripsin inhibitor

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Huppartz, J.L. 2000. Safety Assesment Regulations. J. Singapore Microbiologist, ILSI, Singapore. Vol. Ags – Oct 2000 hal 10-11.

Low, F.C. 2000. Genetically Modified Organisms. J. Singapore Microbiologist, ILSI, Singapore. Vol. Ags – Oct 2000 hal 2-5.

Sriwatanapongse, S. 2000. Genetically Modified Organisms. J. Singapore Microbiologist, ILSI, Singapore. Vol. Ags – Oct 2000 hal 6-7.

Van den Eede, G, M. Lipp, M. Querci, E. Aglen. 2000. The Science of Genetically Modified Organisms, Detection methods and Their Use. J. Singapore Microbiologist, ILSI, Singapore. Vol. Ags – Oct 2000 hal 14-15.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :