Arya Ulilalbab

Makanan, Gizi dan Kesehatan

Twitter

Pro- Pangan Transgenik

diposting oleh aryaulilalbab-fkm12 pada 17 October 2012
di Ilmu Pangan - 0 komentar

Keuntungan pangan hasil rekayasa genetika antara lain meningkatkan efisiensi dan produktivitas, nilai ekonomi produk, memperbaiki nutrisi, nilai palatabilitas dan meningkatkan masa simpan produk. GMO adalah mahluk hidup yang telah ditingkatkan kemampuan genetisnya melalui rekayasa genetis. Secara mudah dapat dipahami bahwa dengan rekayasa genetis, ”komponen” mahluk hidup ”dibuah”, disesuaikan, sehingga menjadi lebih unggul, semisal tahan hama, tahan penyakit, dan lebih banyak menghasilkan panen, atau menambah ”gemuk” hewan ternak. Sebagai contoh, tanaman jagung yang mudah terserang hama, melalui rekayasa genetis, dapat di ”silangkan” dengan jenis bakteri yang dapat ”melawan” hama tersebut, sehingga menjadi tanaman jagung type baru yang tahan hama (Koswara, 2007).

Kelompok pro-GMO bersikeras berpendapat bahwa tanaman transgenik dan produk olahannya aman dan menguntungkan dan patut dimasyarakatkan produk transgenik tersebut. Pertengahan 1990-an, pelaku agribisnis mulai mempromosikan benih tanaman transgnik yang diklaim mengurangi pemakaian pestisida dan ramah lingkungan, seperti : jagung Bt, kapas Bt, dan kedelai Bt, kanola yang tahan hama dan toleran herbisida. Tanaman transgenik tahan hama, memiliki keuntungan ganda. Karena dengan disisipi gen bakteri tanah Bt, sel tanaman akan menghasilkan crystalline (Cry) protein yang bersifat toksik terhadap hama serangga tertentu. AS sebagai negara produsen tanaman transgenik terbesar (68% dari total areal transgenik dunia), terdiri atas tanaman kedelai, jagung, kapas, dan kanola transgenik. Di Indonesia, meski tidak tercatat sebagai produsen tanaman transgenik, kenyataannya beberapa jenis komoditas transgenik sudah tumbuh di Tanah Air. Sejak diterbitkan SK Mentan (No. 856/Kpts/HK330/9/1997), menurut Hari Hartiko (2000), di Indonesia sudah ditanam 10 tanaman transgenik, antara lain jagung (4 jenis), kacang tanah, kapas (2 macam), kakao, kedelai, padi, tebu, tembakau, ubi jalar, dan kentang. Sejauh ini pengujian tanaman transgenik oleh Deptan masih terbatas pada pengamatan secara fisik. Selain keempat komoditas utama (jagung, kedelai, kapas, dan kanola), di dunia ini sudah beredar tanaman transgenik lain, meski masih relatif sedikit jumlahnya , seperti kentang, labu, pepaya, melon, tomat, dan tanaman yang direkayasa agar tahan virus, awet segar, dan bernilai gizi tinggi.

Tanaman transgenik yang sudah berhasil dilepas di lapangan mempunyai banyak manfaat terutama di bidang pertanian. Tanaman transgenik yang tahan terhadap insekta, herbisida, dan toleran terhadap lingkungan secara langsung berperan dalam meningkatkan produktivitas. Hal ini dapat dipahami karena tanaman dapat sintas menghadapi tekanan lingkungan, sehingga semua fase kehidupannya dapat dilalui dengan baik. Tanaman transgenik yang tahan terhadap insekta akan menurunkan frekuensi aplikasi pestisida. Pengurangan pemakaian pestisida sama artinya dengan tidak memasukkan bahan-bahan kimia berbahaya ke dalam lingkungan, sehingga dampak pencemaran lingkungan dapat dikurangi. Dalam kasus ini tanaman transgenik mampu meningkatkan keramahan terhadap lingkungan.

Keberhasilan perakitan tanaman transgenik yang mempunyai kadar zat gizi tinggi, masa simpan produk lebih lama, dan penampilan produk lebih baik menyebabkan mutu produk secara keseluruhan lebih baik. Mutu produk yang baik memberikan kepuasan terhadap konsumen.

Dalam hal pelestarian hayati sudah ada contoh nyata bahwa organisme transgenik justru menjadi penyelamat terhadap kepunahan suatu spesies. Pohon chesnut (Castanea dentata) pada mulanya merupakan tanaman dominan yang tersebar luas di Amerika Utara. Serangan cendawan Cryphonectria parasitica telah menghancurkan tanaman hingga ambang kepunahan. Saat ini telah dilakukan rekayasa genetika sehingga kromosom C. parasitica mengandung gen dari mycovirus sehingga keganasannya berkurang (hypovirulent). C. parasitica transgenik tersebut sangat membantu dalam menangkal serangan C. parasitica liar di alam, sehingga dapat menyelamatkan tanaman chesnut dari kepunahan (Suwanto, 2000).

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hartiko, Hari. 2000. Diskusi Pakar dalam Memperingati Hari Hak-hak Konsumen Sedunia Tahun 2000. Jakarta, 2 Maret 2000.

Koswara, 2007. Labelisasi dan Deteksi GMO, (Online), ( http://www.pustaka-deptan.go.id/publikasi/wr264042.pdf, diakes tanggal 25 Desember 2011.

Suwanto ,A. 2000. Tanaman Transgenik : Bagaimana Kita Menyikapinya ?.Hayati. 7(1):26-30.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :