Arya Ulilalbab

Makanan, Gizi dan Kesehatan

Twitter

Nelayan di Pantai Kenjeran

diposting oleh aryaulilalbab-fkm12 pada 18 October 2012
di Umum - 1 komentar

  • Aktifitas dan kehidupan nelayan :

Nelayan mulai berlayar sekitar pukul 05.00 dan kembali mendarat pukul 14.00. Setiap hari para nelayan melaut, kecuali pada hari jum’at dan kalau ada ombak yang cukup besar. Ombak yang besar dapat membahayakan jiwa nelayan. Selain itu pada saat ombak besar ikan tidak muncul. Dalam satu perahu biasanya hanya satu orang, ada juga yang berisi tiga orang (tergantung besar kecilnya perahu). Hasil tangkapan nelayan jumlahnya tidak pasti, hal ini dipengaruhi oleh musim dan adanya ombak di sekitar selat madura. Untuk ikan bulu ayam, rata-rata sekali melaut menghasilkan sekitar 40 kg. Bisa juga sampai 100 kg ikan. Dalam sehari, penghasilan bersih nelayan tidak tentu. Terkadang hanya mendapatkan 30 ribu, kadang bisa sampai 100 ribu kalau hasil tangkapannya banyak. Hal ini sebanding dengan pengeluaran mereka. Nelayan sempat mengeluhkan kebiasaan anak mereka yang sehari bisa menghabiskan uang 10 ribu hanya untuk membeli makanan ringan/ snack. Tidak hanya satu/ dua anak keluarga nelayan, tetapi hal ini sudah menjadi kebiasaan sebagian besar anak nelayan di sekitar pantai kenjeran.

Walaupun setiap hari menangkap ikan, tetapi justru sebagian keluarga nelayan tidak mengkonsumsi ikan. Hal ini dikarenakan mereka sudah jenuh mengkonsumsi ikan. Padahal ikan mempunyai kandungan gizi yang tinggi dan mengandung asam lemak esensial. Dengan kondisi seperti ini, perlu dilakukan inovasi pengolahan hasil perairan untuk menaikkan nilai jual produk hasil perairan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan keluarga nelayan sekaligus mencukupi kebutuhan gizi keluarga nelayan. Sebenarnya mereka mengetahui, ikan bisa diolah menjadi abon ikan. Tetapi mereka malas untuk mengolah hasil tangkapan tersebut karena dirasa kurang praktis dan memerlukan waktu yang relatif lama.

  • Jenis hasil laut yang ada di pantai kenjeran :

Ikan bulu ayam, ikan bulu “mentok”, ikan tengiri, kerang burung, siput laut, kerang hijau, kerang bulu, ikan pari, terung, ikan keting, udang, kepiting, dan udang halus (nelayan biasanya menyebut sebagai udang abon).

Ikan bulu ayam dan ikan bulu “mentok” keberadaannya tidak kenal musim. Ikan tengiri biasanya ada pada musim-musim penghujan.

  • Pengolahan ikan segar :
  1. Ikan bulu ayam, ikan bulu “mentok”, siput laut, kerang hijau, kerang bulu : dikeringkan (tanpa penambahan garam), supaya kadar air berkurang sehingga daya simpan bisa lebih lama.
  2. Ikan tengiri, ikan pari, ikan keting : dilakukan pengasapan
  3. Ikan tengiri : dimanfaatkan sebagai bahan pembuat kerupuk ikan tengiri, dengan penambahan tepung, sedikit garam dan bumbu tertentu
  4. Kerang burung : dibersihkan, dijual mentah ke pasar pabean dengan dimasukkan dalam box ice
  5. Terung : dibersihkan dari kotoran, direndam air tawar selama kurang lebih 12 jam, dikeringkan dengan penjemur sinar matahari, dimanfaatkan sebagai kerupuk, dimana media penggorengan berupa pasir (pada proses pengolahan kerupuk tersebut tanpa dilakukan penambahan tepung, garam ataupun bumbu lain).
  • Penanganan ikan segar :

Setelah penangkapan, ikan yang ada di perahu dibiarkan tetap menempel di jaring. Baru dilepaskan dari jaring setelah sampai di darat. Setelah dilepaskan dari jaring, ikan bulu ayam dan bulu “mentok” (merupakan hasil tangkapan terbanyak di daerah pantai kenjeran) dibersihkan, dimasukkan dalam box ice, dibelah jadi dua dengan irisan pada sisi bawah perut sampai kepala, kotoran dikeluarkan, pagi hari dijemur sampai kering. Pada saat panas terik, pengeringan hanya memakan waktu satu hari. Kalau suasana berawan bisa sampai dua hari.

Ikan, kerang, dan udang yang dijual dalam bentuk segar dimasukkan box ice dan langsung dibawa ke pasar pabean. Ada juga konsumen yang langsung membeli ke nelayan. Ikan hasil tangkapan ini tidak diawetkan dengan formalin (bahan pengawet berbahaya bagi kesehatan) karena jarak waktu antara penangkapan dan penanganan ikan relatif singkat.

  • Proses pengasapan ikan :

Bahan bakar yang digunakan dalam proses pengasapan ikan yaitu tempurung kelapa. Hal ini dikarenakan tempurung kelapa bisa memberikan panas yang cukup dan asap yang lumayan banyak sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Untuk mendapatkan ikan asap yang bermutu tinggi maka harus digunakan jenis kayu keras (non-resinous) atau sabut dan tempurung kelapa, sebab kayu-kayu yang lunak akan menghasilkan asap yang mengandung senyawa-senyawa yang dapat menyebabkan hal-hal dan bau yang tidak diinginkan.

  • Penanganan limbah ikan :

Limbah ikan biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Keluarga nelayan banyak yang memelihara ayam dan “mentok” di halaman belakang ataupun depan rumah (seberang jalan).

1 Komentar

Hanafy

pada : 21 October 2015


"bermanfaat sekali gan"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :